Oleh: Idham Cholid
Aku pernah mengira
kebenaran tinggal di puncak gunung.
Maka kudaki segala lereng,
kupelajari nama setiap batu,
kuhitung bintang satu demi satu.
Semakin tinggi langkahku,
semakin panjang bayanganku.
***
Lalu kutemui mereka…
Seorang memeluk belalai,
berkata,
“Inilah gajah.”
Seorang menggenggam telinga,
tersenyum,
“Tidak… inilah gajah.”
Aku hampir ikut memilih.
Sampai kusadari…
kami semua
sedang meraba cahaya.
***
Aku berlari kepada buku.
Buku menunjuk guru.
Guru menunjuk pengalaman.
Pengalaman menunjuk luka.
Luka menunjuk sunyi.
Dan sunyi…
diam-diam
menunjuk langit.
***
Lalu zaman berubah.
Datanglah sebuah cermin
yang mampu menjawab
lebih cepat
daripada aku bertanya.
Orang menamakannya…
AI.
Aku pun takut.
Takut bila pikiranku
bukan lagi milikku.
Tetapi malam berkata,
“Burung tak kehilangan langit
hanya karena angin membantunya terbang.”
***
Maka aku belajar lagi.
Bahwa pengetahuan
bukan tumpukan batu.
Ia adalah sungai.
Mengalir.
Bercabang.
Bertemu.
Lalu menjadi laut.
***
Aku mencari guru yang sempurna.
Kutemukan
orang pintar
yang tak bijaksana.
Kutemukan
orang bijaksana
yang tak pandai berkata.
Kutemukan
orang sederhana
yang diamnya
lebih dalam
daripada pidato.
Sejak itu…
aku berhenti mencari
manusia tanpa cela.
***
Sebab rupanya
Tuhan menyembunyikan
sepotong cahaya
pada setiap jiwa.
Tak ada seorang pun
yang membawa matahari.
Semua hanya membawa
setitik fajar.
***
Aku pun menggambar peta.
Kupikir peta itulah dunia.
Lalu dunia tertawa.
Gunung berpindah.
Sungai berubah.
Jalan hilang.
Dan peta di tanganku
menjadi tua.
Barulah kupahami…
yang harus terus diperbarui
bukan dunia.
Melainkan
cara aku melihatnya.
***
Kini…
bila kutemui seorang anak,
aku belajar tentang harapan.
Bila kutemui seorang tua,
aku belajar tentang waktu.
Bila kutemui orang benar,
aku belajar keteguhan.
Bila kutemui orang yang keliru,
aku belajar kerendahan hati.
Tak ada lagi
pertemuan yang sia-sia.
***
Sebab kita semua
adalah pengelana.
Sebagian berjalan
mencari harta.
Sebagian berjalan
mencari nama.
Sebagian berjalan
mencari kuasa.
Dan sebagian kecil…
berjalan
agar matanya
mampu melihat.
***
Kelak…
ketika seluruh jalan
telah selesai dilalui,
tak seorang pun ditanya,
“Berapa jauh engkau berjalan?”
Mungkin yang ditanyakan hanyalah,
“Apakah hatimu menjadi lebih bening
daripada saat engkau berangkat?”
***
Maka hari itu,
aku tak lagi ingin
menjadi orang
yang selalu benar.
Aku hanya ingin
menjadi seorang pengelana…
yang setiap senja
masih sanggup
berlutut
di hadapan Kebenaran.

