Ketika Dunia Bersorak, Siapa yang Masih Mendengar Tangis Gaza?

 Oleh: Idham Cholid

Ketika dunia bersorak menyambut gol-gol Piala Dunia, di Gaza orang-orang masih harus berlari mengejar truk-truk tangki pembawa air.

Di stadion, puluhan ribu penonton berdiri merayakan kemenangan. Nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo terus bergema di tribun, menjadi simbol kegembiraan yang menyatukan jutaan pasang mata di seluruh dunia. Di Gaza, para ayah, tidak peduli apakah mereka dosen atau tukang bangunan, semua sama harus berlarian mengantri berjam-jam di bawah matahari yang membakar hanya untuk mendapatkan beberapa liter air bagi anak-anak mereka. 

Di layar yang satu, manusia sedang berpesta. Di layar yang lain, manusia sedang berusaha bertahan hidup. Mungkin karena itulah sebagian orang memandang euforia Piala Dunia dengan perasaan yang bercampur aduk. 

Bukan karena mereka membenci sepak bola. Bukan karena mereka tidak memahami kebutuhan manusia untuk bergembira. Tetapi karena mereka melihat dua kenyataan yang berjalan bersamaan dengan kontras yang begitu menyakitkan.

Saat dunia menikmati pesta olahraga terbesar di muka bumi, menurut berbagai laporan lembaga kemanusiaan internasional, sekitar dua juta penduduk Gaza kini hidup terkepung di wilayah yang tersisa hanya sekitar 32 kilometer persegi. 

Di ruang yang sempit itu, kehidupan dipaksa berlangsung dalam bentuk yang nyaris tidak dapat dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Rumah berada di dalam tenda. Sekolah berada di dalam tenda. Klinik dan rumah sakit darurat berada di dalam tenda. Bahkan ruang-ruang yang dahulu menjadi tempat belajar dan membangun masa depan kini telah berubah menjadi hamparan tenda pengungsian.

Bagi sebagian besar keluarga, tenda bukan lagi tempat berlindung sementara.Tenda telah menjadi seluruh dunia mereka.

Bayangkan sebuah tenda berukuran sekitar tiga meter. Di dalam ruang sesempit itu, harus tinggal satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang atau bahkan lebih.

Mereka tidur di sana. Mereka menyimpan barang-barang mereka yang tersisa dari perang di sana. Mereka memasak di sana. Anak-anak bermain di sana. Dan seluruh kehidupan mereka berlangsung di sana.

Pada musim dingin, tenda-tenda itu tidak mampu menahan hujan. Pada musim panas, tenda-tenda itu berubah menjadi ruang panas yang nyaris tidak bisa dihuni.

Ironisnya, mereka tidak dapat bertahan lama di dalam tenda karena suhu yang menyengat, tetapi mereka juga tidak memiliki tempat lain untuk dituju. Ketika keluar, mereka berhadapan dengan terik matahari yang membakar dan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.

Beginilah kehidupan yang terus berlangsung setiap hari, bahkan ketika sebagian besar dunia sedang sibuk merayakan hal-hal lain. 

Kontras itu terasa semakin tajam karena turnamen ini berlangsung ketika Timur Tengah belum benar-benar keluar dari pusaran konflik. Gaza masih menjadi luka terbuka yang belum sembuh, sementara kawasan di sekitarnya terus diguncang ketegangan politik dan militer yang silih berganti. 

Pada saat layar-layar televisi di berbagai negara dipenuhi pesta sepak bola, sebagian masyarakat Iran masih hidup berduka dalam prosesi pemakaman Ali Khamenei  dan ketidakpastian akibat eskalasi konflik yang mengguncang kawasan.   Di satu tempat jutaan orang bersorak menyambut gol. Di tempat lain, keluarga-keluarga masih berkumpul dalam suasana ratapan dan kecemasan 

Namun di tengah semua itu, pertandingan tetap dimainkan. Trofi tetap diperebutkan. Dan dunia tetap bergerak.

Sejarah memang sering menghadirkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu tempat, orang-orang merayakan kemenangan. Di tempat lain, orang-orang hanya berharap bisa melewati hari berikutnya.

Masalahnya bukan bahwa manusia bergembira. Masalahnya bukan bahwa manusia mencintai sepak bola. Yang patut direnungkan adalah sesuatu yang lebih dalam.  

Ketika sebuah tragedi berlangsung terlalu lama, dunia perlahan belajar hidup berdampingan dengannya. Tangisan berubah menjadi angka. Penderitaan berubah menjadi statistik.  Dan berita tentang kematian perlahan kehilangan kemampuannya untuk mengguncang hati manusia.

Mungkin karena itulah bendera Palestina terus muncul di tribun stadion, di media sosial, dan di berbagai sudut dunia. Bukan untuk merusak pesta.Bukan untuk mengalahkan sepak bola.

Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik gemuruh sorak-sorai itu masih ada jutaan manusia yang hidup di bawah tenda-tenda sempit, masih ada anak-anak yang kehausan, masih ada keluarga yang kehilangan rumah, dan masih ada sebuah tragedi yang belum selesai.

Bahaya terbesar bagi Palestina bukanlah ketika dunia sedang bersorak. Bahaya terbesar adalah ketika penderitaan yang berlangsung begitu lama tidak lagi mampu mengganggu kegembiraan dunia.

Sejarah menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan jarang berakhir karena waktu. Ia berakhir ketika nurani manusia memutuskan bahwa penderitaan seseorang tetap penting, sekalipun tidak lagi menjadi berita utama. 

Sebab sebuah peradaban tidak diuji ketika ia mampu membangun stadion yang megah, memecahkan rekor penonton, atau menciptakan pesta yang mempersatukan dunia. Ia diuji ketika masih mampu mempertahankan empatinya kepada mereka yang menderita, bahkan ketika sorak kemenangan sedang menggema paling keras. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *