Dari Nasi ke Besi, dari Kemerdekaan ke Rawi

Refleksi Perjalanan ke Serang–Cilegon

Oleh: Idham Cholid
Pengamat Geopolitik, Strategi dan Peradaban

Kita baru saja memperingati 17 Agustus, sebuah momentum ketika bangsa Indonesia mengakhiri satu fase panjang penjajahan dan menyatakan kehendaknya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kemerdekaan, karena itu, semestinya tidak berhenti sebagai upacara tahunan, perlombaan, atau pengibaran bendera, tetapi menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: setelah terbebas dari penjajahan, peradaban seperti apa yang sedang kita bangun?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kita memasuki 25 Agustus, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal—tanggal yang secara luas diperingati sebagai Maulid Nabi Muhammad ﷺ, sekaligus mengingatkan kita pada rangkaian penting dalam perjalanan hidup beliau. Rabiul Awal bukan hanya momentum untuk mengenang sosok Nabi, tetapi juga kesempatan membaca kembali rawi—riwayat, sirah, dan perjalanan beliau—sebagai sumber refleksi tentang bagaimana manusia membangun masyarakat, menata nilai, dan mengarahkan peradaban.

Dari sinilah catatan perjalanan sederhana saya ke Mes Gerogol, kawasan Serang–Cilegon, menemukan maknanya: sebuah perjalanan fisik yang perlahan berubah menjadi perjalanan pikiran.

Dalam perjalanan itu, sebuah percakapan singkat dengan seorang rekan yang memahami dunia mesin terus terngiang di kepala saya: “Besi itu seperti makanan.” Kalimat sederhana tersebut memperoleh makna lain ketika saya melihat lanskap Cilegon. Manusia membutuhkan nasi untuk mempertahankan kehidupan tubuhnya, tetapi kota modern membutuhkan besi dan baja untuk membangun struktur kehidupannya.

Gedung, jembatan, kendaraan, pabrik, pelabuhan, jaringan transportasi, hingga mesin-mesin yang menggerakkan ekonomi modern berdiri di atas material yang sebagian besar berakar pada industri logam. Jika nasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup, besi dapat dipandang sebagai salah satu kebutuhan material peradaban untuk membangun kekuatan fisiknya. Cilegon memperlihatkan wajah peradaban dalam bentuk yang sangat material: bumi diekstraksi, diolah menjadi besi dan baja, kemudian digunakan kembali untuk membangun dunia yang lebih besar.

Dari sana saya melihat bahwa sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh gagasan, tetapi juga oleh material yang memungkinkan gagasan itu mengambil bentuk. Namun, justru karena itu, pertanyaan berikutnya menjadi lebih penting: jika material dapat membangun tubuh peradaban, apa yang menentukan arah perjalanannya?

Oleh-oleh dari Serang–Cilegon karena itu tidak sekadar barang yang dimasukkan ke dalam goody bag, melainkan semacam arsip sejarah yang dapat dimakan. Sate bandeng, dengan olahan ikan dan balutan kelapanya, membawa geografi Banten ke atas meja: masyarakat pesisir, kekayaan perairan, dan keterhubungan dengan jalur perdagangan yang sejak lama menjadikan kawasan ini terbuka terhadap dunia luar. Geografi ternyata bukan sekadar lokasi di atas peta; ia dapat menentukan bagaimana sebuah masyarakat tumbuh, berdagang, berinteraksi, bahkan membangun identitasnya.

Demikian pula rabeg membawa kita pada lapisan sejarah yang lebih jauh. Hidangan ini sering dikaitkan dengan nama Rabigh, sebuah kota di kawasan Laut Merah di Arab Saudi, dan dalam ingatan kuliner Banten ia menjadi bagian dari jejak panjang perjumpaan budaya serta jaringan perdagangan dunia Islam. Terlepas dari perdebatan mengenai detail asal-usulnya, yang menarik adalah kenyataan bahwa makanan dapat menjadi pintu masuk untuk membaca sejarah. Sejarah ternyata tidak selalu tersimpan dalam arsip negara atau buku-buku akademik; ia juga dapat hidup dalam resep, rempah, bahasa, kebiasaan, dan makanan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dari Serang, perjalanan itu membawa saya pulang ke Tangerang Selatan. Di sinilah kontras antarkota terasa semakin jelas. Tangsel adalah kota satelit yang tumbuh cepat dalam orbit metropolitan Jakarta, dibentuk oleh ekspansi properti, urbanisasi, mobilitas penduduk, pusat-pusat konsumsi, dan kedekatannya dengan pusat ekonomi nasional.

Kota ini memiliki produk lokal—dodol Cilenggang, kacang sangrai Kranggan, sagon bakar, apem, dan berbagai produk UMKM lainnya—tetapi pertanyaannya bukan semata-mata apakah Tangsel memiliki produk lokal atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa kuat produk-produk itu membawa cerita tentang kotanya?

Sate bandeng dan rabeg relatif mudah membawa ingatan kita kepada Banten, sejarah kesultanan, masyarakat pesisir, dan jaringan perdagangan Islam. Sementara itu, produk Tangsel masih lebih sering hadir sebagai produk ekonomi lokal yang harus berjuang menemukan ruang di tengah derasnya modal, urbanisasi, dan budaya konsumsi metropolitan.

Padahal Tangsel juga memiliki lapisan sejarah dan kebudayaan sendiri—dari jejak akulturasi Tionghoa-Betawi hingga memori perjuangan Lengkong. Persoalannya bukan ketiadaan sejarah, melainkan belum kuatnya hubungan antara sejarah, identitas kota, dan produk yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat.

Di titik inilah UMKM sebenarnya memiliki posisi yang jauh lebih strategis daripada sekadar pelaku ekonomi kecil. Mereka adalah salah satu penjaga ingatan lokal. Ketika sebuah makanan diberi cerita, sebuah kerajinan diberi konteks sejarah, dan sebuah produk ditempatkan dalam narasi geografis kotanya, produk tersebut tidak lagi sekadar barang dagangan; ia menjadi bagian dari identitas.

Sebaliknya, ketika sebuah kota hanya dipahami melalui pusat perbelanjaan, kawasan hunian, gedung perkantoran, dan nilai properti, kota itu memang dapat tumbuh secara ekonomi, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk menjawab pertanyaan paling sederhana: “Siapa kita?”

Karena itu, pembangunan kota tidak cukup hanya mengandalkan modal, investasi, infrastruktur, dan kenyamanan. Serang memiliki memori Kesultanan Banten, Cilegon memiliki sejarah industrialisasi dan kekuatan baja, sedangkan Tangsel memperlihatkan wajah urbanisasi metropolitan yang sangat cepat. Ketiganya menunjukkan bahwa kota bukan sekadar ruang tempat manusia tinggal dan bekerja; kota adalah ruang tempat ingatan, identitas, kepentingan ekonomi, dan arah masa depan saling bernegosiasi. Ketika ingatan kolektif menghilang, kota mungkin tetap berdiri semakin tinggi, tetapi jiwa yang membuatnya memiliki makna dapat semakin tipis.

Dari sini perjalanan fisik ke Serang–Cilegon bertemu kembali dengan makna Kemerdekaan. Indonesia merdeka bukan hanya karena berhasil mengusir penjajah, tetapi karena bangsa ini menyatakan hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Namun, menentukan arah membutuhkan lebih dari sekadar kebebasan; ia membutuhkan visi, nilai, ingatan sejarah, dan kemampuan membaca lingkungan strategis.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, sebuah bangsa dapat memiliki wilayah, sumber daya, industri, gedung, jalan, pelabuhan, bahkan kekuatan militer, tetapi semua itu belum otomatis menghasilkan peradaban yang memiliki arah. Cilegon mengajarkan tentang kekuatan material; Serang mengajarkan tentang kekuatan sejarah dan jaringan; Tangsel mengajarkan tentang kecepatan perubahan. Ketiganya sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan material tanpa orientasi nilai dapat menghasilkan kota yang maju secara fisik tetapi miskin makna.

Di sinilah kemerdekaan harus dibaca kembali bukan hanya sebagai peristiwa masa lalu, melainkan sebagai pekerjaan yang terus berlangsung: kemampuan sebuah masyarakat untuk menjaga kedaulatan pikirannya, menentukan prioritasnya, dan mewariskan identitasnya di tengah perubahan zaman.

Karena itu, memasuki Rabiul Awal membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam tentang Rawi—membaca kembali perjalanan Rasulullah ﷺ bukan sekadar untuk mengetahui urutan peristiwa dalam sirah, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat dibangun dari manusia yang tercerai-berai menjadi komunitas yang memiliki arah, nilai, ikatan sosial, dan visi peradaban.

Di sana kita menemukan bahwa membangun peradaban tidak dimulai dari gedung, jalan, atau besi, melainkan dari manusia dan nilai yang menggerakkannya. Infrastruktur dapat mempercepat mobilitas, industri dapat memperbesar kapasitas produksi, dan kekuatan material dapat memperluas kemampuan suatu bangsa; tetapi tanpa nilai yang mengarahkan penggunaannya, kekuatan itu dapat kehilangan tujuan.

Membaca Rawi, dengan demikian, bukan sekadar kembali kepada masa lalu, melainkan membaca bagaimana nilai diterjemahkan menjadi tindakan, bagaimana persaudaraan dibangun, bagaimana konflik dikelola, bagaimana masyarakat ditata, dan bagaimana sebuah komunitas diarahkan untuk keluar dari keadaan lama menuju tatanan yang lebih bermakna. Jika besi adalah salah satu bahan untuk membangun tubuh peradaban, maka nilai adalah kompas yang menentukan ke mana tubuh itu bergerak.

Maka, oleh-oleh sesungguhnya dari perjalanan Serang–Cilegon bukanlah sate bandeng, rabeg, atau barang yang kita bawa pulang dalam sebuah tas. Oleh-oleh itu adalah sebuah pertanyaan yang mungkin lebih sulit dijawab daripada sekadar menentukan apa yang akan kita makan atau bangun: apa yang sedang kita wariskan bagi peradaban hari ini? Manusia membutuhkan nasi untuk menghidupkan raga, kota membutuhkan besi untuk membangun infrastrukturnya, bangsa membutuhkan kemerdekaan untuk menentukan jalannya, dan manusia membutuhkan nilai untuk memastikan bahwa jalan tersebut tidak kehilangan arah.

Pada akhirnya, peradaban tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang dapat kita produksi, seberapa tinggi gedung yang kita bangun, atau seberapa besar industri yang kita miliki. Peradaban juga diukur dari apa yang kita ingat, apa yang kita maknai, apa yang kita teladani, dan terutama apa yang sanggup kita wariskan kepada generasi setelah kita. Besi dapat membangun struktur, sejarah memberi kita identitas, kemerdekaan memberi kita ruang untuk menentukan arah, tetapi nilailah yang membuat perjalanan sebuah peradaban memiliki tujuan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *