Menyingkap Realisme Politik di Negeri Ahmad Al-Sharaa

Dari Penarikan Pasukan Amerika, Jantung Minyak Deir ez-Zor, hingga Lahirnya Arsitektur Baru Syam

Oleh: Idham Cholid

(Pemerhati Geopolitik, Strategi, dan Peradaban)

Serangan udara Israel yang menghantam kawasan Al-Zohour pada 18 Agustus 2026 lalu, disusul kunjungan diplomatik penting Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani ke Islamabad pada 19–20 Agustus, bukanlah dua peristiwa yang sepenuhnya berdiri sendiri. Di permukaan, yang satu tampak sebagai eskalasi militer, sementara yang lain terlihat seperti kunjungan diplomatik biasa. Namun jika keduanya ditempatkan dalam lanskap perubahan geopolitik Suriah sepanjang 2026, kita akan menemukan sebuah garis merah yang lebih besar: Suriah sedang bergerak dari medan perang menuju arena baru perebutan pengaruh, legitimasi, energi, keamanan, dan bentuk negara.

Perubahan tersebut menjadi semakin menarik jika dikaitkan dengan berakhirnya kehadiran militer Amerika Serikat di Suriah. Bagi pengamat sepintas, keluarnya pasukan Amerika dari basis-basis strategisnya dapat dengan mudah dibaca sebagai tanda kekalahan Washington. Seolah-olah Amerika telah meninggalkan Suriah setelah gagal memenangkan permainan panjang di negeri yang selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu medan paling rumit dalam politik Timur Tengah. Tetapi Realisme Politik mengajarkan kita untuk berhati-hati terhadap kesimpulan semacam itu. Dalam politik internasional, berkurangnya kehadiran militer tidak selalu berarti berkurangnya pengaruh.

Justru beberapa hari setelah dinamika militer dan diplomatik tersebut, Washington mengambil langkah yang sangat penting: pada 24 Agustus 2026 Amerika Serikat secara resmi menghapus Suriah dari daftar State Sponsors of Terrorism. Perubahan ini tidak boleh dipandang sebagai tindakan administratif belaka. Bagi sebuah negara yang sedang berusaha keluar dari kehancuran perang, pencabutan status tersebut membuka ruang yang jauh lebih besar bagi normalisasi ekonomi, hubungan diplomatik, investasi, dan integrasi kembali ke dalam sistem internasional. Dengan kata lain, ketika sepatu bot Amerika berkurang di tanah Suriah, instrumen pengaruh Amerika justru berpindah ke wilayah lain: diplomasi, legitimasi, ekonomi, dan kemampuan membuka atau menutup pintu hubungan internasional.

Di sinilah letak titik balik analisisnya: Amerika mungkin mengurangi kehadiran militernya di Suriah, tetapi itu tidak otomatis berarti Amerika meninggalkan permainan. Washington hanya sedang mengubah cara bermain.

Pergeseran Cara Amerika Bermain

Kehadiran militer Amerika di Suriah sejak 2015 pada dasarnya dibangun di atas kebutuhan untuk menghancurkan ISIS dan mencegah organisasi tersebut kembali menguasai wilayah. Dalam menjalankan misi itu, Washington menggantungkan sebagian besar operasi daratnya kepada Syrian Democratic Forces (SDF), terutama unsur-unsur Kurdi yang terbukti efektif dalam menghadapi ISIS. Strategi tersebut pada masanya masuk akal secara militer, tetapi sejak awal menyimpan persoalan politik yang serius karena hubungan SDF dengan kelompok Kurdi yang dipandang Türkiye sebagai ancaman keamanan.

Amerika akhirnya berada dalam posisi yang tidak sederhana. Di satu sisi, SDF merupakan mitra yang efektif dalam perang melawan ISIS. Di sisi lain, dukungan terhadap SDF menimbulkan ketegangan dengan Türkiye, yang justru merupakan sekutu Amerika dalam NATO. Selama ISIS masih menjadi ancaman teritorial utama, kontradiksi tersebut dapat ditoleransi karena kepentingan Amerika untuk menghancurkan ISIS jauh lebih mendesak. Namun setelah ISIS kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya dan ancamannya berubah menjadi jaringan insurgensi yang lebih tersebar, nilai strategis mempertahankan pasukan Amerika dalam jumlah besar di gurun Suriah harus kembali dihitung.

Dalam kalkulasi kekuatan besar, persoalannya bukan sekadar apakah suatu operasi masih mungkin dilakukan, melainkan apakah biaya yang dikeluarkan masih sebanding dengan kepentingan yang diperoleh. Ketika biaya politik, militer, dan diplomatik mulai lebih besar daripada manfaat kehadiran langsung, perubahan strategi menjadi sesuatu yang rasional. Amerika tidak harus berada di setiap sudut wilayah untuk memastikan kepentingannya tetap terlindungi. Aktor lokal dapat mengambil sebagian besar beban keamanan, sementara Washington mempertahankan kemampuan untuk mempengaruhi arah politik melalui diplomasi, ekonomi, bantuan, tekanan, dan hubungan dengan berbagai pusat kekuatan regional.

Karena itu, penarikan pasukan tidak seharusnya dibaca dengan logika sederhana “Amerika kalah lalu pergi”. Dalam perspektif Realisme Politik, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang diperoleh Amerika setelah tidak lagi harus membayar mahal untuk mempertahankan kehadiran militernya?

Jawabannya mungkin justru terletak pada sesuatu yang lebih murah tetapi tidak kalah besar: kemampuan mempengaruhi pilihan aktor lain.

Ahmad al-Sharaa dan Politik Kepentingan

Perubahan paling menarik terlihat pada sosok Ahmad al-Sharaa. Tokoh yang dahulu berada di sisi berlawanan dengan kepentingan Amerika kini justru menjadi salah satu aktor yang harus diperhitungkan Washington dalam menentukan masa depan Suriah. Sekilas, perubahan ini tampak seperti paradoks besar. Tetapi jika kita menggunakan kacamata Realisme Politik, paradoks tersebut menjadi lebih mudah dipahami.

Negara tidak selamanya mempertahankan kategori “kawan” dan “musuh” berdasarkan sejarah. Kepentingan dapat mengubah keduanya. Aktor yang kemarin dianggap sebagai ancaman dapat menjadi mitra ketika kondisi strategis berubah dan kerja sama dengannya menghasilkan keuntungan yang lebih besar daripada konfrontasi.

Itulah yang membuat perjalanan al-Sharaa menarik. Washington tidak harus menghapus seluruh keraguan terhadap masa lalunya untuk dapat bekerja sama dengannya. Amerika hanya perlu melihat apakah pemerintahan yang dipimpinnya mampu menjalankan fungsi yang kini lebih dibutuhkan: menjaga stabilitas, mengendalikan wilayah, mengamankan perbatasan, mencegah kebangkitan kelompok ekstrem, dan membuka jalan bagi sebuah negara Suriah yang dapat berfungsi kembali.

Penghapusan status HTS (Hay’at Tahrir al-Sham) dari daftar resmi organisasi teroris yang kemudian disusul pencabutan status Suriah sebagai State Sponsor of Terrorism pada 24 Agustus 2026, memperlihatkan perubahan besar dalam kalkulasi tersebut. Washington secara perlahan memisahkan penilaian terhadap masa lalu dari kebutuhan strategis terhadap masa depan. Suriah yang dahulu harus diisolasi kini justru perlu diberi ruang untuk kembali masuk ke dalam sistem internasional.

Bukan karena masa lalunya tiba-tiba berubah, melainkan karena kepentingan hari ini telah berubah. Dan disinilah Realisme Politik menjadi sangat dingin: negara besar tidak harus menyukai seorang pemimpin untuk dapat bekerja sama dengannya. Negara hanya perlu menemukan kepentingan yang dapat dipertukarkan.

Deir ez-Zor: Ketika Minyak Menjadi Ujian Negara

Perubahan itu kemudian menemukan bentuk paling nyata di Deir ez-Zor. Wilayah ini bukan sekadar hamparan gurun di timur Suriah. Ia merupakan salah satu kawasan penting karena sumber daya energinya, posisi geografisnya di sepanjang Sungai Eufrat, serta kedekatannya dengan jalur yang menghubungkan Suriah dengan Irak dan kawasan sekitarnya.

Karena itu, perebutan Deir ez-Zor sesungguhnya bukan hanya perebutan wilayah. Ia merupakan perebutan salah satu sumber kehidupan negara.

Ketika kekuasaan atas kawasan tersebut bergerak kembali ke tangan pemerintahan Suriah setelah SDF mundur, Damaskus memperoleh sesuatu yang sangat penting secara politik. Tetapi penguasaan wilayah belum tentu sama dengan keberhasilan negara. Ladang minyak tidak otomatis menghasilkan kekuatan jika pemerintah tidak mampu mengamankan fasilitas, mengelola produksi, membangun infrastruktur, memungut pendapatan, dan memastikan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Di sinilah tantangan terbesar Ahmad al-Sharaa sesungguhnya dimulai.

Selama masa perang, legitimasi dapat dibangun melalui kemenangan. Tetapi setelah perang, legitimasi harus dibangun melalui pelayanan publik, keamanan, ekonomi, dan kemampuan negara memenuhi kebutuhan warganya. Seorang pemimpin dapat memenangkan pertempuran dalam hitungan hari, tetapi membangun negara membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Karena itu, Deir ez-Zor dapat menjadi ujian penting bagi Damaskus: apakah pemerintahan baru hanya mampu menguasai wilayah, atau benar-benar mampu mengubah sumber daya wilayah menjadi kekuatan negara?

Jika minyak hanya menjadi objek perebutan elite, ia akan memperpanjang konflik. Tetapi jika energi menjadi sumber penerimaan untuk membangun institusi, infrastruktur, dan kehidupan ekonomi, maka Deir ez-Zor dapat berubah dari jantung konflik menjadi salah satu fondasi pemulihan Suriah.

Kurdi, Damaskus, dan Kepentingan Türkiye

Perubahan di timur Suriah juga memaksa kelompok Kurdi menghitung ulang posisinya. Selama bertahun-tahun, keberadaan SDF memperoleh perlindungan dan dukungan dari Amerika Serikat. Ketika kehadiran Amerika berkurang, struktur keamanan yang selama ini berdiri di bawah payung tersebut harus menemukan bentuk baru.

Bagi Damaskus, jawabannya adalah integrasi kembali wilayah dan institusi ke dalam negara Suriah. Bagi Ankara, persoalannya berkaitan langsung dengan keamanan perbatasan. Türkiye tentu lebih nyaman melihat kekuatan bersenjata Kurdi masuk ke dalam struktur resmi negara Suriah daripada melihat munculnya entitas bersenjata otonom yang berdiri di sepanjang perbatasannya.

Di sini terdapat titik temu kepentingan yang menarik. Damaskus membutuhkan integrasi wilayah. Ankara membutuhkan keamanan perbatasan. Washington membutuhkan Suriah yang cukup stabil sehingga tidak kembali menjadi tempat berkembangnya kelompok ekstrem dan konflik yang menuntut intervensi Amerika.

Ketiganya tidak memiliki kepentingan yang sama persis. Tetapi politik internasional tidak membutuhkan kesamaan kepentingan secara sempurna. Yang dibutuhkan hanyalah irisan kepentingan yang cukup besar untuk melahirkan kompromi.

Karena itu, masa depan SDF dan kelompok Kurdi tidak hanya merupakan persoalan etnis atau keamanan lokal. Ia menjadi bagian dari proses lebih besar: siapa yang berhak membawa senjata, siapa yang mengendalikan wilayah, dan pada akhirnya siapa yang memiliki legitimasi untuk mendefinisikan negara Suriah.

Israel dan Dilema Suriah yang Mulai Stabil

Bagi Israel, munculnya Suriah baru juga membawa dilema yang berbeda. Suriah yang terpecah mungkin lebih lemah, tetapi juga lebih sulit diprediksi. Sebaliknya, Suriah yang berhasil membangun pemerintahan yang stabil akan lebih mudah diajak bernegosiasi, tetapi pada saat yang sama berpotensi kembali menjadi negara yang memiliki kapasitas strategis lebih besar.

Karena itu, konsolidasi Damaskus tidak otomatis menjadi kabar baik bagi semua pihak.

Serangan Israel di kawasan Al-Zohour pada 18 Agustus dapat ditempatkan dalam konteks perubahan kalkulasi tersebut. Namun kita juga perlu menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana bahwa setiap serangan Israel semata-mata merupakan bukti ketakutan terhadap pemerintahan al-Sharaa. Dalam politik keamanan, tindakan militer sering kali merupakan upaya untuk mengendalikan risiko sebelum risiko tersebut berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.

Dengan demikian, persoalannya bukan hanya siapa yang memiliki niat buruk, tetapi siapa yang sedang memperoleh kemampuan baru.

Inilah yang disebut dilema keamanan: ketika satu negara merasa sedang meningkatkan keamanannya sendiri, peningkatan kemampuan tersebut justru dapat dibaca sebagai ancaman oleh negara lain. Akibatnya, satu pihak memperkuat pertahanannya, pihak lain merespons, dan siklus ketidakpercayaan pun kembali terbentuk.

Suriah yang sedang membangun kembali dirinya karena itu tidak hanya menghadapi masalah domestik. Setiap keberhasilan konsolidasi di Damaskus pada akhirnya akan mengubah kalkulasi negara-negara di sekelilingnya.

Lahirnya Arsitektur Keamanan Baru

Perubahan Suriah juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan yang berlangsung lebih luas di Timur Tengah. Pada 7 Agustus 2026, Arab Saudi, Türkiye, dan Pakistan menandatangani Pakta Pertahanan Bersama Makkah. Kesepakatan tersebut memperlihatkan kecenderungan negara-negara kawasan untuk memperkuat kemampuan pertahanan bersama dan tidak sepenuhnya menggantungkan keamanan regional pada satu kekuatan eksternal.

Kita memang tidak boleh menyederhanakannya sebagai “pengganti Amerika”. Pakta tersebut secara resmi diposisikan sebagai kesepakatan pertahanan dan pencegahan, bukan sebagai pembentukan blok untuk menghadapi negara tertentu. Namun dari perspektif Realisme Politik, munculnya mekanisme semacam itu tetap penting karena menunjukkan satu kecenderungan: negara-negara regional semakin berusaha membangun kemampuan sendiri di tengah perubahan keseimbangan kekuatan.

Kunjungan Asaad al-Shaibani ke Islamabad pada 19–20 Agustus kemudian memperoleh arti strategis dalam konteks tersebut. Suriah yang baru tidak hanya membutuhkan bantuan untuk membangun kembali ekonominya. Ia juga membutuhkan jaringan hubungan yang dapat memberikan ruang gerak diplomatik dan keamanan.

Karena itu, Suriah kemungkinan tidak akan memperoleh keuntungan dengan menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada satu kekuatan.

Justru pilihan yang lebih rasional adalah membangun hubungan dengan sebanyak mungkin pusat kekuatan, selama hubungan tersebut tidak menghilangkan otonomi strategisnya.

Suriah dapat bekerja sama dengan Amerika tanpa menjadi satelit Amerika. Dapat membangun hubungan dengan Türkiye tanpa kehilangan kedaulatan. Dapat menerima investasi negara-negara Arab tanpa menyerahkan seluruh arah ekonominya. Dapat membuka hubungan dengan Barat tanpa menutup seluruh pintu kepada negara-negara lain.

Inilah yang dalam praktik geopolitik sering disebut politik keseimbangan atau politik banyak arah.

Bagi negara yang baru keluar dari perang, kemampuan semacam itu bukan kemewahan.Ia adalah kebutuhan untuk bertahan hidup.

Penutup: Pasukan Amerika Boleh Hengkang, tapi Kepentingan Tetap Bertahan

Suriah pada pertengahan 2026 sedang memasuki sebuah fase yang jauh lebih menentukan daripada sekadar pergantian pemerintahan. Negara itu sedang berusaha mengubah dirinya dari ruang konflik menjadi negara yang berfungsi. Dan proses tersebut akan menentukan apakah Ahmad al-Sharaa hanya akan dikenang sebagai orang yang berhasil merebut kekuasaan, atau sebagai pemimpin yang berhasil mengubah kemenangan tersebut menjadi sebuah negara.

Tantangannya sangat besar. Ia harus mengintegrasikan wilayah, merangkul kelompok-kelompok yang selama perang berdiri di sisi berbeda, mengendalikan sumber daya energi, membangun kembali institusi, menjaga perbatasan, dan sekaligus memainkan diplomasi di antara kekuatan-kekuatan yang memiliki kepentingan berbeda terhadap Suriah.

Sementara itu, Amerika Serikat tampaknya sedang menunjukkan bentuk kekuasaan yang berbeda. Pengurangan kehadiran militer tidak serta-merta menghilangkan pengaruh. Washington masih memiliki kemampuan untuk mempengaruhi arah Suriah melalui hubungan diplomatik, akses ekonomi, legitimasi internasional, dan kemampuannya menghubungkan Damaskus dengan sistem yang lebih luas.

Karena itu, kesalahan terbesar dalam membaca geopolitik Suriah adalah menganggap bahwa kekuatan hanya dapat dilihat dari jumlah tentara yang berada di lapangan.

Kekuatan juga berada pada kemampuan menentukan siapa yang dapat diterima, siapa yang dapat berhubungan, siapa yang memperoleh akses ekonomi, siapa yang dapat memperoleh dukungan, dan siapa yang harus menghitung kepentingan kita sebelum mengambil keputusan.

Maka, Suriah bukan lagi sekadar papan catur tempat kekuatan asing bertarung. Tapi Suriah sedang berusaha menjadi pemain.

Apakah ia berhasil atau kembali menjadi objek permainan, akan sangat bergantung pada kemampuan Damaskus mengubah kekuasaan menjadi institusi, minyak menjadi kemakmuran, diplomasi menjadi ruang gerak, dan kemenangan militer menjadi legitimasi politik.

Pada akhirnya, inilah hukum paling dingin dari Realisme Politik:

kekuatan terbesar sebuah hegemon tidak selalu terlihat dari seberapa lama tentaranya berada di tanah asing, tetapi dari seberapa jauh kepentingannya tetap diperhitungkan setelah tentaranya pergi.

Jika Damaskus, Ankara, Tel Aviv, Riyadh, Islamabad, dan aktor-aktor lainnya tetap harus menghitung posisi Washington dalam menentukan langkah mereka, maka Amerika belum benar-benar meninggalkan permainan. Ia hanya mengganti cara bermain.

Dan di negeri Ahmad al-Sharaa, permainan itulah yang baru saja memasuki babak berikutnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *