Bukan Pungguk Merindukan Bulan

Akhy,

Di tengah kegelapan malam ini, kita di hutan. Apakah salah, akhy, jikalau pungguk merindukan bulan? Apakah kita datang kemari untuk lari dari perbudakan istri, setiap hari tak kenal lelah “ternak teri”? Ataukah mengucilkan diri dari lingkaran sosial yang diracuni AI?

Ataukah di dalam keheningan malam ini, di sana ada jiwa yang memendam rindu? Menatap daun-daun dan pepohonan yang hitam pekat, berpegangan erat pada batu-batu gunung yang membisu, menyanyikan nasyid-nasyid perjuangan Palestina yang membakar jiwa juang dengan warna merah saga.

Lalu masing-masing kita menepi karena merasa malu. Saat kita hanya bisa bernyanyi, saat mereka meronta-ronta dalam siksa. Saat kita tidur nyaman di dalam sleeping bag empuk, sementara anak-anak tak bisa tidur karena digigit rasa lapar.

Saat istri-istri kita rebahan dengan gadget sambil memesan menu GoFood, wanita-wanita di sana mencoba mendiamkan anaknya yang menangis, namun tidak lagi bisa bersuara. Mata-mata cekung mereka hanya mengaduk-aduk panci kosong, berpura-pura memasak untuk menghibur kelaparan agar jangan bernyanyi lagi.

Sementara pikiran nakal kita menerawang ingin membelah duren.

Bapak-bapak di sana hanya bisa memandang gundukan sampah yang menggunung di sekeliling tenda-tenda yang melambai rapuh. Tikus-tikus berkejaran sambil tertawa, main hompimpa untuk berbagi giliran malam ini akan menggigit kaki siapa. Kecoa, ular kobra berhimpitan mencari kehangatan di samping tenda-tenda yang pasti hangat karena melebihi kapasitas.

Kita di sini bermimpi kembali, pulang ke rumah kita yang tenang, menanti Senin yang selalu menyapa dengan pekerjaan penuh rezeki.

Kala bapak-bapak di sana berteriak kecewa pada ratu tidak adil: “Di mana kantor-kantor kami? Universitas tempat kami mengajar? Rumah sakit tempat kami merawat pasien? Pasar tempat kami membeli bawang dan tomat?”

Mengapa setiap hari kami harus berlari mengejar kekecewaan saat harus antre jatah makan dan air bersih, harus memandang panci-panci kosong?

Centong yang bertanya bingung, mengapa seorang profesor harus berlari-lari mengejar sepanci nasi maqlubah, tapi pulang dengan tangan hampa.

Di mana harga ilmu ini, ya akhy, di sepotong dunia yang hina dina ini?

Kala engkau memandang bocah-bocah yang terpotong tangan dan kakinya, bocah-bocah yang kulitnya penuh dengan eksim dan penyakit kulit.

Di hutan ini, akhy, meski kelamnya malam, mata kita tidak boleh terpejam. Kepala ini tidak boleh terlena di malam yang hening lagi syahdu.

Karena kita, wahai akhy, bukan pungguk merindukan bulan. Kita adalah pejuang di dalam kegelapan.

Takbir!

Gunung Sindur, 15 September 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *