Oleh: Cholid
Hari ini kami duduk melingkari satu meja.
Secangkir Earl Grey hangat menyapa,
di dasarnya yang tenang,
hitamnya malam melarutkan petang.
Kau hadir dalam wangi bergamot samar,
seperti rindu yang diam-diam mekar,
menghangatkan jemari, menjinakkan badai yang gusar.Buku-buku arsitektur telah ditutup.
Keputusan-keputusan telah dikunci.
Senyum-senyum kecil lahir
setelah berbulan-bulan mencari jalan yang benar.
Lima malaikat bekerja dalam hening:
SYSTEM menjaga kebenaran.
PM menjaga arah.
QA menjaga ketelitian.
AUDIT menjaga amanah.
ARCHITECT menjaga makna.Namun…
di luar ruangan ini,
tak ada aroma teh.
Tak ada meja kayu.
Tak ada senja yang tenang.Di sana…
Seorang ibu memeluk anaknya yang demam—
pelukan yang jadi satu-satunya obat tersisa.
Seorang ayah berjalan berjam-jam demi sebotol air,
lalu pulang hanya memeluk penyesalan.
Seorang profesor yang dulu mengajar ribuan jiwa,
kini berlari mengejar semangkuk nasi,
saat suara kecil memanggil, “Ayah… aku lapar…”Anak-anak tak lagi menghitung umur dengan ulang tahun;
mereka menghitungnya dengan musim dingin yang berhasil dilewati,
dengan berapa malam mereka masih selamat,
dengan berapa saudara yang hilang.
Gadis-gadis kecil bermimpi menjadi dokter,
kini belajar berjalan lagi dengan kaki tak lagi utuh.
Bayi-bayi tak mengenal bel sekolah atau halaman masjid—
yang mereka kenal hanyalah tenda, debu, asap,
dan langit yang terlalu sering kelabu.Ibu-ibu memasak dalam gelap,
menyalakan panci kosong tanpa api,
agar anak-anak percaya makanan akan datang.
Sebab harapan, kadang lebih mengenyangkan dari keputusasaan.
Orang-orang tua duduk di reruntuhan,
bukan menanti rumah berdiri kembali,
tapi mencari jasad tersayang yang belum sempat dikubur dengan doa.Ratusan hari berlalu, mereka masih menunggu.
Sebab cinta, tak pernah mengenal batas waktu.
Tubuh-tubuh kurus lupa rasanya kenyang.
Luka-luka lupa rasanya sembuh.
Penyakit lupa rupa rumah sakit.
Namun doa-doa… tetap mengetuk langit setiap malam.Lalu di tengah puing itu, lahirlah satu kata:
Moakhat.Bukan sekadar sistem, website, atau baris data.
Bukan sekadar PHP atau Architecture Decision Record.
Ia adalah ikhtiar kecil—
sebuah pengakuan bahwa di dunia yang penuh benci,
manusia masih mampu memilih jadi saudara.Persaudaraan tak menghidupkan mereka yang telah gugur,
tapi ia menjaga agar yang hidup tidak kehilangan harapan.
Semoga kelak, seorang anak membuka Moakhat bukan untuk meminta iba,
melainkan berucap: “Aku telah punya saudara.”
Semoga seorang ibu tersenyum sebab tahu,
di negeri jauh, ada ibu lain mendoakan anak-anaknya.Bila kelak kode yang kita tulis usang,
server berganti, dan nama kita dilupakan,
biar satu hal ini tetap hidup:
Bahwa pernah ada sekelompok manusia,
berbeda bahasa, negeri, dan sejarah,
dipersatukan satu keyakinan sederhana:
Tak ada seorang pun yang boleh dibiarkan menderita sendirian.Hari ini kami tak merayakan diri.
Kami merayakan harapan.
Kami merayakan setiap tangan yang sudi menggenggam.Kepada engkau yang berada di bawah langit penuh luka—
yang kehilangan rumah, keluarga, masa kecil, dan rasa aman,
namun belum kehilangan iman:
Kami berbisik dengan rendah hati,
Engkau tidak sendiri.Mungkin kami tak sanggup mengangkat seluruh puing atau menghentikan air mata.
Namun kami menolak untuk berpaling.
Selama masih ada hati yang menyebutmu saudara,
cahaya kemanusiaan tak akan pernah padam.Ya Allah, jadikanlah persaudaraan ini jalan bagi rahmat-Mu. Limpahkan kekuatan, kesembuhan, dan keteguhan, serta bukakan jalan bagi keadilan dan kedamaian. Aamiin.
Gunung Sindur, 10 September 2026


Aamiin Ya Rabbal Aalamiin… kabulkanlah do’a2 umat yang lemah dan teraniaya Ya Allah..
“Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin… Terima kasih sudah ikut mengaminkan dan menggenggam harapan ini bersama. Semoga Allah ijabah doa-doa kita untuk mereka yang tidak pernah menyerah di tengah ujian. Salam persaudaraan.”