Elegi Pagi untuk Seorang Bapak

Oleh: Cholid

Pagi ini ingin aku meletakkan kepalaku di dadamu, Bapak,
dengan segala kepolosan seorang bocah,
ketika seorang anak yang telah dewasa
kembali ingin menjadi anak di hadapan bapaknya.

Bukan untuk mengadilimu,
bukan untuk meminta uang jajan seperti dulu,
bukan pula untuk menegurmu karena kembali bersikap kekanak-kanakan,
bermain bersama kakek-kakek lain seperti anak-anak.

Sebab semua itu sebenarnya tidak lagi terjadi padamu.
Engkau bahkan pernah menolak dipapah ke kamar mandi,
dan meninggalkan dirimu terkunci di dalamnya,
padahal kakimu tak lagi mampu berjalan,
syaraf-syarafnya telah kehilangan fungsinya.

Aku merasa nyawa memang kadang memanggil kaki lebih dahulu.
Namun melihat ketegaran jasadmu dan semangatmu,
aku masih tidak percaya bahwa engkau akan pergi.

Bapak,
engkau mungkin tidak pernah tahu
bahwa anakmu ini akhirnya berjuang
dan berhasil mengumpulkan uang untuk membeli tanah wakaf masjid.

Mungkin ada masa lalu
yang membuatmu tidak lagi percaya kepadaku.
Ketika Bapak memberikan tanah wakaf musholla
dan kita membangunnya,
aku malah meninggalkannya
dan tidak memakmurkannya.

Maafkan aku, Bapak.

Kini hidupku berada di musholla,
memegang amanah banyak orang
yang percaya kepadaku, meski bukan darimu.

Jika engkau tahu,
barangkali engkau akan senang.

Tetapi begitulah dunia dan barzakh:
pengetahuan di antara keduanya telah dibatasi.
Ada yang ingin kukabarkan kepadamu,
tetapi engkau tak lagi dapat mendengarnya.

Sebagian barang peninggalanmu
telah kami gunakan untuk mendukung pembangunan masjid.
Semoga ia menjadi cahaya bagi kehidupanmu di alam sana.

Dan semoga doa-doa kami yang penuh dosa
masih didengar oleh Yang Maha Kuasa:

agar engkau diampuni,
disucikan dengan air yang sejuk mengalir
dan kesejukan salju Kaukasus,
dicuci dari segala kesalahan
seperti kain putih yang bersih dari kotoran;

agar rumahmu diganti dengan rumah
yang lebih nyaman daripada rumahmu di dunia,
dengan keluarga yang lebih menenteramkan
daripada keluarga yang engkau tinggalkan;

dan agar engkau dijaga
dari fitnah kubur dan azab neraka.

Beruntunglah mereka yang masih memiliki bapak.

Sebelum menjadi bapak,
sebelum tangan itu tak lagi dapat dicium,
sebelum dada itu tak lagi dapat dipeluk,
belajarlah menjadi anak yang berbakti.

Sebab ketika bapak telah pergi,
yang tersisa sering kali bukan kesempatan,
melainkan doa, kenangan,
dan penyesalan.

Gunung Sindur, 8 Oktober 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *