Rabiul Awal, Gaza, dan Sebuah Rumah di Madinah

Renungan Menjelang Rabiul Awal 1448 H

Oleh: Idham Cholid

Pemerhati Geopolitik dan Strategi

Beberapa hari lagi Rabiul Awal 1448 Hijriah akan kembali menyapa umat Islam. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, bulan ini dipenuhi lantunan shalawat, pembacaan sirah, dan ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW—sebuah tradisi mulia yang merawat akar keimanan. Namun, momentum ini menuntut kita menjawab satu pertanyaan mendasar: Apakah selama ini kita membaca Sirah Rasulullah SAW sekadar sebagai romantisme sejarah, atau sebagai petunjuk peradaban?

Allah SWT berfirman:

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)

Ayat ini menegaskan bahwa kisah para nabi adalah ‘ibrah—petunjuk navigasi untuk membaca dan merespons kenyataan zaman. Karena itu, membaca kembali kisah hijrah di bulan Rabiul Awal hari ini tidak mungkin dilepaskan dari tatanan geopolitik global yang sedang koyak, khususnya krisis kemanusiaan di Gaza.

Kaum Muhajirin meninggalkan Mekkah bukan sekadar mencari tempat tinggal baru. Mereka meninggalkan tanah kelahiran, pasar tempat mencari nafkah, dan keluarga yang dicintai. Sebagian membawa luka penyiksaan; sebagian membawa trauma atas gugurnya para sahabat. Mereka tiba di Madinah bukan hanya dengan kemiskinan materi, tetapi juga dengan luka psikologis yang dalam.

Kondisi tersebut adalah cermin jernih dari apa yang dialami warga Gaza hari ini. Bangunan fisik, jalan, dan sekolah yang hancur dapat dibangun kembali dengan anggaran rekonstruksi. Namun, tantangan terbesar peradaban bukanlah semen dan batu bata, melainkan pemulihan jiwa manusia: bagaimana menyembuhkan anak-anak dari trauma berkepanjangan, menyatukan keluarga yang tercerai-berai, dan merajut kembali struktur sosial yang dihantam pembantaian.

Di sinilah letak kejeniusan strategi Rasulullah SAW dalam meletakkan fondasi peradaban Madinah. Setelah membangun Masjid Quba, Masjid Nabawi, dan merumuskan Piagam Madinah, beliau melakukan langkah strategis yang sering terlewatkan dalam analisis modern: mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Ansar (Moakhat).

Rasulullah SAW tidak mendahulukan benteng militer atau ekspansi ekonomi. Beliau mendahulukan rekonstruksi manusia.

Sebagaimana dianalisis oleh Dr. Amr Khaled, Moakhat dipandu oleh tiga prinsip utama: Takamul (saling melengkapi potensi), Ta’ayush (koeksistensi yang harmonis), dan Bina’ al-Mustaqbal (konsolidasi masa depan). Senada dengan itu, Dr. Tariq Suwaidan menekankan bahwa Moakhat bukan sekadar gerakan charity atau empati pasif, melainkan rekayasa sosial (social engineering) untuk melahirkan masyarakat yang berdikari dan bermartabat. Sikap Abdurrahman bin Auf yang tidak meminta harta Ansar melainkan meminta ditunjukkan jalan ke pasar adalah bukti bahwa Moakhat berhasil memulihkan martabat korban krisis tanpa memelihara ketergantungan.

Tentu terdapat perbedaan konteks geopolitik: Muhajirin berpindah ke ruang aman Madinah yang berdaulat, sementara warga Gaza hari ini bertahan di dalam wilayah terkepung (enclave). Namun, ketimpangan struktur politik global ini justru mempertegas panggilan aksi bagi umat Islam hari ini: Siapakah yang mengambil peran sebagai Kaum Ansar modern?

Ansar hari ini bukan lagi terbatas pada warga lokal satu kota, melainkan institusi filantropi global, pemerintah negara-negara Muslim, serta komunitas individu di seluruh dunia. Konsep Moakhat tidak boleh berhenti menjadi wacana mimbar, melainkan harus diterjemahkan ke dalam tiga skema aksi nyata:

  1. Skema Sister-Family (Penyatuan Keluarga Digital): Mengadopsi pola Moakhat di mana satu keluarga Muslim yang berkecukupan di belahan dunia lain mengampu satu keluarga di Gaza secara berkelanjutan—tidak hanya untuk bantuan finansial, tetapi juga dukungan moral dan akses pendidikan jarak jauh.
  2. Kemitraan Kelembagaan dan Institusi: Mengintegrasikan lembaga pendidikan, rumah sakit, dan pusat bisnis di dunia Islam dengan institusi sejawat di Gaza melalui program pendampingan kapasitas (capacity building) untuk menjamin keberlanjutan hidup.
  3. Rekonstruksi Psikososial Berbasis Komunitas: Mengirimkan dan memfasilitasi tenaga ahli kesehatan mental dan trauma healing yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas Islam untuk menyembuhkan jiwa masyarakat yang terluka.

Rabiul Awal tahun ini membawa pesan yang sangat terang. Allah SWT tidak secara kebetulan mempertemukan ingatan kita pada kelahiran Nabi SAW di tengah jeritan Gaza yang belum usai. Ini adalah panggilan sejarah bagi umat Islam untuk berhenti menjadikan Sirah sebagai nostalgia.

Saatnya umat Islam melangkah keluar dari zona empati pasif dan mengoperasionalkan model Moakhat sebagai pilar rekonstruksi Gaza. Sebab, tatanan dunia yang adil dan bermartabat tidak dibangun dari ratapan, melainkan dari keberanian kita untuk menjadi “Ansar” bagi saudara-saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan martabat kemanusiaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *