Maafkan Aku Tak Menyapa, Marmara

Mungkin ini kali pertama, tapi bukan yang terakhir,

Kutinggalkan engkau dalam senyap yang mengalir.

Bukan karena aku lupa, bukan pula terlena

Oeh sorak-sorai kesuksesan menyadarkan kepala.

Ketika Global Sumud Flotilla berlayar perkasa,

Menggendong empat jiwa penjaga berita,

Mendobrak dinding sunyi, melipatgandakan suara:

Bahwa diam adalah bentuk keterlibatan yang nyata.

Ingatkah engkau pada bulan-bulan di atas samudra?

Saat seorang profesor rela berganti jubah menjadi juru masak,

Saat kerudung-kerudung suci dijahit dari kain sisa yang koyak,

Dan kaki-kaki telanjang melangkah tanpa kasut,

Di bawah hari-hari hemat air dan lapar yang menyusut.

Perjalanan yang berujung pada dinginnya jeruji besi,

Namun tak secuil pun gentar merayapi nadi.

Sebab di sana, saudara-saudara kami di Gaza,

Sedang memeluk kelaparan dunia yang paling memalukan.

Bayangkan sosok bapak dan remaja yang berlarian,

Mengejar tetesan air dan secuil makanan,

Di bawah bayang-bayang siksa penjara

Yang kepedihannya tak sanggup dieja kata.

Dari Marmara menuju Mavi Marmara,

Dari Sumud Flotilla ke Global Sumud Flotilla,

Aku tidak pernah kehilangan arah dan kompas jiwa.

Namun di tengah deru ombak dan pekik prestasi,

Ketika wanita-wanita garang rela berbulan-bulan pergi,

Meninggalkan hangat keluarga demi panggilan samudra…

Marmara, mendadak lidahku kelu, hari-hariku membeku.

Jauh di ujung Indonesia sana,

Ayahku telah berpulang lebih dulu ke haribaan Yang Maha Kuasa.

Sementara aku di sini, terdampar dalam dilema yang perih:

Haruskah kubiarkan kesedihan ini terus merintih?

Di saat kesadaranku masih saja meronta dan berteriak,

Bahwa diam berarti bersekutu dengan penindas yang tamak!

Aku bukanlah bagian dari penjajahan!

Jika hari ini aku diam dan menangis,

Itu hanya karena aku seonggok wanita, makhluk yang rindu.

Seperti jutaan wanita lain di tanah Gaza yang pilu,

Mereka yang bukan hanya kehilangan figur seorang bapak,

Tetapi juga anak-anak yang direnggut paksa,

Kakek, nenek, cucu, dan bibi yang sirna.

Mereka kehilangan benda-benda, warna-warna, tali-tali kehidupan,

Bahkan kehilangan seluruh semesta.

Namun keajaiban itu ada: mereka tak pernah kehilangan kesabaran.

Mereka tak pernah melepaskan keteguhan.

Maka di atas sajak dan ombak ini, aku bersumpah,

Bersamamu aku akan selalu melangkah.

Di dalam detak Global Sumud Flotilla,

Jiwa kita tak akan pernah menyerah.

Anonim,  turut berbelasungkawa atas wafatnya ayah dari seorang srikandi Indonesia. Semoga Allah masukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dan ampunan. Aaamiin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *