Terbenamnya Barat dan Terbitnya Timur: Meneropong Pergeseran Geopolitik Global dan Posisi Dunia Islam

Oleh: Idham Cholid

Pemerhati Geopolitik dan Strategi

1. Pendahuluan: Metafora Pergeseran Kekuatan

Ungkapan “Terbenamnya Barat dan Terbitnya Timur” merupakan sebuah metafora historis dan geopolitik yang meminjam pemikiran sastrawan Mesir, Ahmad Hasan Al-Zayyat, dalam artikelnya pada tahun 1938. Metafora ini merujuk pada dialektika konfrontasi antara peradaban Barat dan Timur dalam sejarah—seperti pada era Khulafaur Rasyidin di bawah Umar bin Khattab hingga Perang Salib di bawah pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi—yang menandai titik balik pasang surut dominasi peradaban.

Dalam konteks abad ke-21, fenomena ini mewujud dalam dua dinamika utama:

  1. Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Perpindahan peta kekuatan global dari kawasan Atlantik (Barat) menuju kawasan Eurasia dan Asia-Pasifik (Timur).
  2. Posisi Geostrategis Dunia Islam: Bagaimana posisi, kapasitas, dan peluang dunia Islam di tengah transformasi tatanan internasional tersebut.

2. Kebangkitan China: Benturan Kekuatan Darat dan Laut

Selama empat dekade terakhir, kebangkitan ekonomi China menjadi fenomena paling fenomenal dalam arena hubungan internasional. Pada mulanya, ekspansi China dianggap sekadar ekspansi ekonomi dan perdagangan. Namun, begitu kekuatan ekonomi yang dahsyat tersebut dikonversikan menjadi ambisi geopolitik dan militer, Barat—khususnya Amerika Serikat—mulai memandangnya sebagai ancaman eksistensial.

Dalam kacamata geografi politik, dinamika ini melahirkan konfrontasi klasik antara Kekuatan Darat Terbesar (Heartland/Land Power) dan Kekuatan Laut Terbesar (Maritime Power).

  • Kekuatan Darat: Diwakili oleh poros Eurasia (China, Rusia, dan India).
  • Kekuatan Laut: Diwakili oleh Eropa Barat dan Amerika Serikat (penerus hegemoni Britania Raya).

Cendekiawan geopolitik Mesir, Jamal Hamdan, menyebut fenomena ini sebagai persaingan abadi antara para petani (kekuatan darat) dan para navigator (kekuatan laut). Dalam teori Hubungan Internasional, ini adalah benturan klasik antara Kekuatan yang Sedang Bangkit (Rising Power) dan Kekuatan yang Sedang Bercokol (Hegemonic Power).

Tiga Aliran Pemikiran Menyikapi Kebangkitan China:

  1. Akomodatif / Menerima Kebangkitan (Kishore Mahbubani): Menganggap kebangkitan Asia sebagai hal yang tak terhindarkan. AS disarankan untuk menerima realitas multipolar ini secara rasional.
  2. Realisme Ofensif / Benturan Mutlak (John J. Mearsheimer): Menguatkan pandangan bahwa benturan AS-China tidak terhindarkan (inevitable). Berdasarkan rekam jejak sejarah AS, hegemon tidak akan pernah membiarkan munculnya pesaing regional baru yang berpotensi mengancam dominasi dunianya.
  3. Persaingan Terkelola / Koeksistensi (Kevin Rudd): Mengusulkan managed strategic competition (persaingan yang dikelola) untuk mencegah konflik terbuka (Avoidable War) yang dapat menghancurkan perekonomian global.

3. Dinamika Rusia: Dari Kekecewaan Menuju Nasionalisme-Spiritual

Pasca-runtuhnya Uni Soviet, Rusia melewati era penyesuaian yang kelam di bawah Mikhail Gorbachev dan Boris Yeltsin. Gorbachev membayangkan sebuah “Common European Home”, berasumsi bahwa Rusia bisa terintegrasi secara setara dengan Eropa tanpa ideologi Komunisme. Namun, Barat di bawah kepemimpinan AS menolak integrasi tersebut karena keberadaan Rusia yang terlalu besar dapat merusak pengaruh hegemoni AS di Eropa.

Kekecewaan strategis ini memicu lahirnya doktrin pimpinan Vladimir Putin. Putin mengusung narasi pemulihan kejayaan Rusia yang berbasis pada Nasionalisme Slavik dan Agama Kristen Ortodoks (Kebangkitan Agamis-Nasionalis). Taktik ekspansionis Rusia—mulai dari Georgia (2008), Krimea (2014), hingga perang Ukraina—merupakan ekspresi dari perlawanan terhadap penjangkauan NATO ke halaman belakang Eurasia.

4. Anatomi Geografis dan Demografis Dunia Islam

Menganalisis dunia Islam dalam kacamata geostrategis memerlukan pemahaman struktur ruangnya. Mengembangkan pemikiran Jamal Hamdan, dunia Islam secara faktual terbagi menjadi dua entitas geografis:

                  ┌─────────────────────────────────────────┐
                  │          DUNIA ISLAM DARATAN            │
                  │  - Anatolia (Kepala)                    │
                  │  - Jazirah Arab / Syam / Irak (Jantung) │
                  │  - Asia Tengah & Afrika Utara (Sayap)   │
                  │  * Keunggulan: Bobot Geopolitik         │
                  └────────────────────┬────────────────────┘
                                       │
                                       │ (Terhubung Geografis)
                                       │
                  ┌────────────────────┴────────────────────┐
                  │          DUNIA ISLAM LAUTAN             │
                  │  - Dunia Melayu (Indonesia, Malaysia,   │
                  │    Brunei, Maldives, Bangladesh)        │
                  │  * Keunggulan: Bobot Demografis         │
                  └─────────────────────────────────────────┘
  • Dunia Islam Daratan: Berbentuk menyerupai burung raksasa dengan kepala di Anatolia (Turki), jantung di Jazirah Arab (mencakup Mekkah, Madinah, Al-Quds, Syam, dan Irak), serta dua sayap yang membentang dari Asia Tengah hingga Afrika Utara. Kawasan ini memegang bobot geostrategis dan nilai keagamaan.
  • Dunia Islam Lautan: Diwakili oleh kawasan Dunia Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei) dan sekitarnya. Kawasan ini memegang bobot demografis terbesar (sekitar sepertiga populasi Muslim dunia berada di kawasan ini).

Secara spasial, jarak antar-wilayah dunia Islam relatif berdekatan (hanya berkisar 4.000–5.000 km), jauh lebih rapat dibandingkan bentangan blok Barat (misalnya jarak Inggris ke Australia yang mencapai 15.000 km).

Jantung Geostrategis Dunia

Dunia Islam berada di titik temu tiga benua kuno (World Island: Asia, Afrika, Eropa) dan menguasai 7 dari 8 selat paling vital di dunia:

  • Gibraltar, Terusan Suez, Bab al-Mandab, Hormuz, Bosporus, Dardanelles, dan Selat Malaka (Hanya Selat Panama yang berada di luar kontrol kawasan Muslim).

5. Menembus Status Pasif: Dari Shatterbelt Menuju Kemandirian

Meski memiliki posisi geostrategis yang sangat bernilai, dunia Islam saat ini terjebak dalam posisi pasif dan kerap dijadikan objek strategi kekuatan luar. Dalam teori geopolitik, kawasan ini sering dikategorikan sebagai:

  • Shatterbelt (Sabuk Penghancur): Wilayah yang retak oleh konflik internal sekaligus menjadi ajang perebutan pengaruh kekuatan hegemoni eksternal.
  • Crush Zone (Zona Benturan): Area benturan antara kekuatan darat dan kekuatan laut.

Kondisi pasif ini terjadi karena hilangnya institusi peneduh (Core State) pasca-runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah pada awal abad ke-20.

Kebutuhan Core State (Negara Poros)

Merujuk pada konsep Samuel Huntington, suatu peradaban memerlukan Core State (Negara Poros) yang berfungsi melindungi dan mengoordinasikan anggotanya. Huntington mengidentifikasi beberapa negara yang berpotensi menjadi poros dunia Islam, seperti Turki, Mesir, Arab Saudi, Iran, Pakistan, dan Indonesia.

Di antara opsi tersebut, Turki secara historis dan strategis memiliki potensi paling utuh, dengan dua syarat utama:

  1. Berdamai dengan identitas dan nilai-nilai peradaban Islamnya.
  2. Mengurangi ketergantungan strategis pada payung pertahanan Barat (NATO).

Namun, mengingat luas dan kompleksnya bentangan geografi dunia Islam, idealnya dibutuhkan aliansi beberapa Negara Poros (Trinitas/Kolektif Kekuatan)—seperti aliansi strategis antara Turki, Indonesia, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir—untuk menggerakkan daya tawar kawasan.

       [ KEBUTUHAN UTAMA DUNIA ISLAM ]
                     │
     ┌───────────────┴───────────────┐
     ▼                               ▼
[ Tekad Politik ]           [ Wawasan Politik ]
(Political Will)            (Strategic Vision)
     │                               │
     └───────────────┬───────────────┘
                     ▼
       [ Konsolidasi Blok Peradaban ]
       (Saling Mendukung & Berkoordinasi)

6. Peluang Strategis di Tengah Pembelahan Tatanan Global

Perang di Ukraina dan rivalitas Washington-Beijing menciptakan pembelahan baru dalam tatanan internasional. Dalam kacamata taktis, pembelahan antar-kekuatan besar selalu memberikan ruang gerak (maneuvering space) bagi negara-negara berkembang untuk meraih deviden strategis.

Kesalahan Taktis dan Strategis di Ukraina:

  • Kesalahan Taktis Rusia: Menyerbu Ukraina dengan kalkulasi cepat, namun mendapati Barat menggunakannya sebagai medan penyedotan energi (war of attrition).
  • Kesalahan Strategis Barat: Terlalu menekan Rusia sehingga justru mendorong Rusia jatuh ke dalam pelukan aliansi China. Hal ini bertentangan dengan doktrin geopolitik klasik AS (Kissinger-Nixon) yang sejatinya harus memisahkan Beijing dan Moskow.

Bagi China, kekalahan atau runtuhnya Rusia adalah ancaman eksistensial. Garis perbatasan darat sepanjang 4.400 km antara Rusia dan China akan terbuka dan rawan disusupi pengaruh Barat, yang berarti China akan terkepung total dari darat dan laut.

7. Penutup: Memilih Mitra Strategis dan Membangun Imunitas

Dalam menghadapi opsi antara Barat dan Timur (China), dunia Islam perlu bersikap pragmatis-strategis:

  • Sisi Budaya & Nilai: Barat mungkin terasa lebih familiar dalam konteks wacana kebebasan dan institusi modern.
  • Sisi Geostrategis: China menawarkan jarak penetrasi internal yang lebih minim. Barat memiliki rekam jejak panjang dalam melakukan penetrasi strategis—mencampuri urusan domestik, mendukung elit terkorupsi, dan mendikte kebijakan nasional. Sementara China, terlepas dari segala catatan kritisnya, berfokus pada pragmatisme ekonomi dan tidak memiliki infrastruktur politik domestik untuk mengendalikan rezim di kawasan Muslim secara langsung.

Oleh karena itu, shifting/peralihan sebagian interaksi strategis ke arah Timur dapat dimanfaatkan oleh negara-negara Islam sebagai leverage (daya tawar) untuk membebaskan diri dari dikte tunggal Barat.

Kesimpulan Akhir:

Dunia Islam tidak dituntut untuk melebur ke dalam satu entitas negara yang kaku, melainkan mewujudkan Persatuan Koordinasi (Al-Ummah Al-Wahidah) yang didasari oleh kesamaan wawasan dan tekad strategis. Dengan memanfaatkan momentum transisi tatanan global dari Atlantik ke Eurasia, dunia Islam memiliki peluang sejarah untuk keluar dari status objek pasif dan bangkit menjadi salah satu kutub peradaban yang menentukan di panggung dunia.

Sumber Rujukan:

Disarikan dan dikembangkan dari materi kuliah geopolitik berbahasa Arab oleh Dr. Mukhtar Syinqithy melalui tayangan YouTube berjudul “Terbenamnya Barat dan Terbitnya Timur” (Diterbitkan 12 Juni 2023).

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=nk9OVcsok1Y

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *